1 November 2010

Dzikir Bukan Fitnahan, Tapi Fundamental Iman Yang Kokoh

Banyaknya isu dan kenyataan yang berkembang tentang Dzikir saat ini, sering dijadikan alat untuk menjatuhkan citra seseorang.

Namun, hal tersebut bukanlah suatu halangan bagi Al Ustadz Habibullah Al-Faqir Illallah Endang Haryana Tajudin Syarif, Pendiri Yayasan Majelis Dzikir Al-Ikhlas Kota Tangerang, untuk terus menginformasikan dan mengibarkan kekuatan Dzikir sebagai fundamentalisme iman yang kokoh dalam Islam.
Hal itu disampaikannya dalam acara pengajian bulanan di Majelis Taklim At-Tin, Jalan HS Abdul Aziz No 16, Rt 01/02, Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang pada Jumat (12/10). Pengajian yang dihadiri oleh sejumlah ibu-ibu gabungan dari 87 Majelis Taklim se-Kecamatan Tangerang itu seakan membawa khalayak tersadar bahwa Dzikir itu merupakan asal usul tersebarnya agama Islam pada zaman Rasulullah SAW, serta betapa dahsyatnya makna Dzikir sesungguhnya.

Endang Haryana Tajudin Syarif menerangkan, sebelum tersebarnya Dzikir di belahan dunia, tentu atas dasar adanya sejarah. Kata dia, dari pada adanya Dzikir itu sendiri diambil dari kisah pendek seorang Muhammad (nama sebelum diangkat menjadi nabi Allah SWT). Muhammad saat itu di setiap Bulan Ramadan selalu ke Gua Hira untuk bersemedi dan menyepi menikmati alam semesta. Dengan kesabarannya yang tinggi sebagai makhluk yang diciptakan dengan segala kesempurnaannya, Muhammad berkhidmat.
Sampai pada akhir khidmatnya, Jibril Alaihi Salam datang mengajarkan suatu kata kepadanya “Ya Muhammad Iqro, dijawabnya tidak bisa”, Kemudian Muhammad Alaihi Salam dipeluk, dengan keringatnya yang mengucur dan menggigil seluruh tubuhnya untuk mengucapkan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarasulullah…”

Kemudian dia sampaikan berita itu kepada istrinya yaitu Siti Khadijah, lalu dia menyampaikan berita itu kepada pamannya. Kemudian pamannya menjelaskan tentang apa yang tersirat di dalam Injil. “Wahai Khadijah, sesungguhnya suamimu itu adalah Rasul.” Namun, Siti Khadijah tidak percaya karena merasa mereka adalah orang yang bodoh, hina, dan miskin.

Pada Bulan Ramadan berikutnya, Muhammad SAW kembali pergi ke Gua Hira. Sampai kemudian dia kembali didatangi Jibril dan dijelaskan kembali. Kemudian penjelasan Jibril itu direnungkan Muhammad untuk dihayati dan dicari tahu apa makna sesungguhnya kejadian yang menimpanya tersebut.

Pada suatu saat, Jibril kembali kepada Muhammad untuk memberitahu bahwa Muhammad akan dihijrahkan ke Siratul Muntahad. Setelah pulang dari sana, baru Muhammad yakin kalau dirinya adalah Rasul Allah. Sejak itu, Nabi Muhammad merasa semakin kuat imannya, semakin kuat rohaninya, dan semakin kuat batinnya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Lalu terbentuklah kelompok Dzikir.
“Sesungguhnya iman itu sangat luar biasa,” ungkap Ustad Endang kembali.

Dilanjutkannya, setelah Rasulullah wafat, maka majelis Dzikir itu dikelola oleh Saidina Ali. Karena Saidina Ali sudah lanjut usia lalu menyerahkan majelis itu kepada Hasan Basri (sebagai putra angkat Rasullah). Lalu, Hasan Basri diajarkan oleh Saidina Ali tentang keimanan dengan konteks Dzikrullah. Kemudian Hasan Basri membangun lembaga formal, yakni Majelis Dzikir yang dikelola oleh Saidina Ali lalu dikembangkan oleh Hasan Basri secara luar biasa, secara terbuka, sampai ke seluruh negeri secara internasional.

“Mulai dari situlah seluruh umat Islam belajar tentang majelis Dzikir. Mereka semua belajar Islam dari Dzikir. Namun pada kenyataannya, Dzikir saat ini dijadikan fitnah,” tangkasnya.

Hal tersebut jelas sangat disayangkannya. Terbukti, lanjutnya, saat ini Dzikir kerap dijadikan seperti sebuah bomerang dalam kehidupan. Banyak ragam yang menyatakan tentang fitnah terhadap Dzikir. Serta banyak orang yang menggunakan Dzikir hanya untuk menangkap dirinya. Supaya terlihat orang yang tersoleh, orang yang dekat dengan Allah, serta untuk mengangkat kredibilitasnya demi mendapatkan keuntungan dan memperkaya diri.

“La Illaha Ilallah.. sepertinya sederhana, tapi sekarang selalu menjadi bahan fitnahan. Padahal Dzikir adalah fundamental dasar sebagai penguatan iman,” jelasnya.

Sementara itu, Pimpinan Majelis Taklim At-Tin, Hj R. Tin Husna, mengungkapkan, pihaknya sangat berterimakasih dengan kedatangan Pimpinan Majelis Dzikir Al-Ikhlas. Pasalnya, pengetahuan yang diberikan kepada jemaah ibu-ibu merupakan informasi penting untuk diketahui lebih dalam mengenai apa dan mengapa harus berdzikir.

“Karena Allah SWT, saya dapat mengundang beliau. Karena masalah Dzikir itu sangat penting. Ibu-ibu belum terlalu banyak tahu tentang bagaimana, apa, dan untuk apa Dzikir itu. Dengan keberadaan Majelis Dzikir Al-Ikhlas ini, diharapkan dapat menjadi wadah bertambahnya informasi dan wawasan tentang keagamaan, saudara dan mempererat silaturahmi,” pungkasnya kepada Ma’rifat.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger