2 Desember 2010

Orang yang Benar, Belum Tentu Orang yang Baik

Hampir setiap hari, rumahnya di bilangan Rawa Belong, Jakarta Barat, disinggahi banyak orang. Semuanya datang untuk berobat. Baik medis maupun non-medis.

Ustadz Aang Irwan (30th), membuka rumahnya sebagai tempat pengobatan dari sakit yang bersifat fisik maupun penyakit hati, dan segala hal yang berhubungan dengan dunia gaib.

Ketika bertandang ke rumahnya, terutama selepas Maghrib, jangan heran kalau sudah banyak orang yang mengantri untuk berobat. Meski dibuka sejak jam 10 pagi, tapi sebagian besar orang lebih banyak datang di malam hari.

Tidak ada nomer pasien dan tidak ada nomer giliran. Di sana, tidak perlu mendaftar untuk berobat. Kita tinggal menunggu dan bertanya pada pasien lainnya siapa orang yang datang sebelum kita. Kalau sudah tahu siapa orangnya, tinggal tunggu orang itu selesai berobat, lalu kita yang berikutnya.
Dalam ruang tunggu yang sebenarnya ruang tamu Ustadz Aang Irwan tersebut, lebih diutamakan agar setiap orang yang berobat bisa bersilaturahim dengan lainnya. Karena tidak ada nomer giliran, otomatis orang yang datang harus bertanya dengan yang lainnya. Dengan begitu, mereka akan saling berkenalan atau bertukar cerita tentang masalahnya.

Ustadz Aang Irwan Kecil
Ustadz Aang Irwan lahir di Tasikmalaya, 30 tahun lalu. Masa kecilnya banyak dihabiskan di sebuah dusun bernama Tebing Maut, Palembang, yang banyak dihuni masyarakat transmigran. Ayahnya seorang kepala dusun yang cukup terpandang di daerahnya.

Ketika berumur 6 tahun, Ustadz Aang Irwan kecil ingin sekali di sunat. Karena keinginan tersebut tidak bisa terbendung lagi, beliau pun memberanikan diri untuk berbicara dengan ayahnya. Tapi, tanpa disangka, sang ayah menolak keinginannya dengan alasan keluarga belum siap untuk menggelar hajatan sunat.

“Ayah saya itu kan, kepala dusun. Jadi, keluarga kami tidak bisa menggelar hajatan biasa-biasa saja karena akan banyak tamu yang diundang dan perlu persiapan,” kata Ustadz Aang Irwan.

Mendengar penolakan ayahnya, Ustadz Aang Irwan kecil pun kecewa lalu kabur dari rumah menuju hutan. Di dalam hutan, Ustadz Aang Irwan kecil menangis sejadi-jadinya dan merasa kesal. Namun, di tengah kegundahannya, beliau dihampiri oleh sosok gaib seorang kakek-kakek berjubah dan berpeci hijau yang menanyakan kenapa menangis.

Diceritakanlah apa saja yang baru terjadi dan apa yang menjadi keinginannya. Lalu, kakek tersebut pun menyuruh Ustadz Aang Irwan kecil untuk membuka celana. “Karena masih kecil, dengan polosnya, saya turutin saja perintah kakek tersebut. Saya disuruh baca al-Fatiha, setelah beberapa lama, alat vital saya sudah tersunat.
Waktu itu, saya tidak tahu kalau kakek itu sosok gaib atau orang biasa,” cerita Ustadz Aang Irwan.

Setelah selesai, lanjutnya, saya disuruh pulang dan sosok kakek tersebut pun menitip salam buat ayah saya.

Dari situ, setahun kemudian, Ustadz Aang Irwan kecil merasa ada perubahan dalam dirinya sampai berumur 7 tahun. Waktu itu, ayahnya pernah berpesan untuk mencari ilmu, jangan cari uang. Banyak-banyak membantu orang ketika besar nanti.

Selang beberapa waktu lamanya, ayah Ustadz Aang Irwan pun jatuh sakit. Bukan sakit biasa karena setiap ke rumah sakit, penyakitnya pun sembuh. Anehnya lagi, setiap malam Jumat Legi, dari tubuh ayahnya keluar paku yang sering dicabuti oleh Ustadz Aang Irwan kecil. “Dulu, saya yang sering cabutin,” ujar ustadz yang waktu kecil bercita-cita jadi polisi ini.

Tak berapa lama, ayahnya pun dipanggil Tuhan dengan meninggalkan tanda tanya besar buat Ustadz Aang Irwan kecil. Apakah ayahnya meninggal karena sakit atau dikerjain orang melalui ilmu gaib?

“Waktu kecil saya sempat mendendam pada siapa yang membunuh ayah saya. Sampai dengan 40 hari ayah meninggal, saya penasaran. Kalau benar ayah saya meninggal karena guna-guna, saya harus tahu siapa yang membunuhnya,” kata Ustadz Aang Irwan.

Karena jawaban dari pertanyaan tersebut tidak kunjung ditemui, Ustadz Aang Irwan kecil yang saat itu berumur 8 tahun pun pergi ke dalam hutan pedalaman dan bertemu dengan kepala suku primitif. Di sana, beliau memelajari berbagai ilmu dengan motivasi untuk mencari tahu siapa pembunuh ayahnya.

“Hampir 8 tahun saya tinggal dan belajar berbagai ilmu di hutan tersebut. Sampai suatu saat ketika guru yang sekaligus menjadi ayah angkat menunjukkan siapa sebenarnya pembunuh ayah saya. Lewat air yang terisi dalam sebuah gentong, saya bisa lihat wajah dan namanya,” ungkap Ustadz Aang Irwan.

Setelah itu, beliau pun pulang ke rumah yang sekitar 8 tahun ditinggalkannya. Sampai di rumah, ibunya sudah tidak mengenali lagi Ustadz Aang Irwan. Setelah diyakinkan, baru ibunya percaya. “Sampai di rumah, ternyata ibu saya sakit lumpuh.
Waktu itu, saya coba mengobati. Hanya dengan mengucap dua kali nama ayah, ibu saya langsung bisa berdiri,” cerita lelaki kelahiran Tasikmalaya, 8 – 8 -1980 ini.

Dua bulan lamanya di rumah, mencari tahu siapa sebenarnya nama pembunuh ayahnya yang telah diketahui, Ustadz Aang Irwan pun pergi ke tempat tinggal tersangka pembunuh ayahnya di daerah Tasikmalaya. Saat itu, dendamnya masih membara, dibawanya berbagai senjata tajam bermaksud untuk membunuh pembunuh ayahnya.

Tapi di luar dugaan, sesampainya di sana, bila semula penuh amarah dan dendam di hati untuk membalaskan kematian ayahnya, Ustadz Aang Irwan malah tidak berdaya dan serasa tidak bisa bergerak. Tersangka pembunuh ayahnya pun sudah tahu kalau akan didatangi.

“Entah kenapa, sosok ibu tua tersebut, dengan ketulusannya meminta maaf dan mengakui bahwa dialah yang membunuh ayahnya. Dua jam saya termenung. Apa yang harus saya lakukan dengan pengakuannya itu? Alhamdullilah di saat kebingungan batin, Allah memberikan maghfiroh apa yang telah dikerjakan ibu itu,” ujar Ustadz Aang Irwan.

Orang itu, tambahnya, ternyata sakit seperti ayah saya dan dalam keadaan terpasung. Saya tidak tega dan perang batin. Antara ingin membunuhnya atau tidak,” ujar Ustadz Aang Irwan.

Anehnya, lanjutnya, saat sedang bimbang, sosok yang dulu pernah menyunati saya, sekilas datang. Dia bilang, “dendam tidak akan ada habisnya”. Akhir kata, saya baru tahu kalau semua itu hanya salah paham dan orang itu saya obati.

Selepas peristiwa itu, masih di Tasikmalaya, Ustadz Aang Irwan kembali dikenali dengan ajaran Islam yang lama ditinggalkan di rumah kakeknya. Tiga bulan berselang, beliau pergi ke Cianjur, belajar di salah satu pesantren terkenal di sana. “Waktu pertama masuk, saya disuruh bersihkan badan. Kalau tidak mau, jangan masuk ke sini,” cerita Ustadz Aang Irwan.

Akhirnya di situ saya banyak belajar, tambahnya, saya ambil makna dari apa yang dialami. Di sana, saya baru tahu bahwa tidak ada yang namanya ilmu hitam atau ilmu putih. Tergantung ke mana dan tujuan hati kita. Buat apa kita melakukannya.

Di pesantren tersebut, Ustadz Aang Irwan banyak belajar teori-teori pengobatan sampai suatu saat bilang sama gurunya kalau beliau ingin bukti, bukan cerita. Akhirnya diberikanlah berbagai bukti-bukti pengobatan sampai hafal benar berbagai tehnik pengobatan beserta penawarnya.

Ke Jakarta
Masjid Istiqlal adalah tujuan Ustadz Aang Irwan ketika ingin datang ke Jakarta. Dengan kemauannya tersebut, Ustadz Aang Irwan rela berjalan kaki selama 5 hari 5 malam untuk ke Jakarta. Sebelum ke Jakarta, beliau diingatkan kembali oleh ibunya agar jangan gunakan kemampuan karena uang. “Waktu itu, saya cuma ingin cari jati diri, siapa sih diri saya ini?” kata Ustadz Aang Irwan.

Sesampainya di Jakarta, Ustadz Aang Irwan pergi ke Tanah Abang. Di sana, beliau bertemu dengan seorang Madura yang sakit, tidak bisa bangun karena asam urat. Ditolongnya orang itu, sampai dianggap sebagai orang tuanya sendiri. Lama di daerah tersebut, sempat pula Ustadz Aang Irwan berjualan sate sampai bertemu jodohnya di sana.

Sekarang, Ustadz Aang Irwan membuka rumahnya sebagai tempat pengobatan penyakit medis dan non-medis. Puluhan orang datang setiap hari. Mengenai biaya pengobatan ditetapkan seikhlasnya tanpa harga tertentu. “Pernah ada yang bayar 5000 rupiah, tidak apa-apa. Saya anggap jika saya menanam di sini, saya akan memanen di tempat lain,” katanya.

Dalam setiap pengobatan, akan digunakan pendekatan medis terlebih dulu. Kalau tidak ditemukan jawabanya, baru beralih ke pendekatan non-medis. “Saya tidak mau langsung ke hal non-medis. Jangan obati penyakit dengan penyakit,” tanda Ustadz Aang Irwan yang memiliki pesantren dengan nama Al Irwan di derah Bogor.

Menurutnya, semua kemampuan yang didapatnya adalah rahasia Allah. Kita baik karena belajar dari makna kesalahan sehingga tahu mana yang baik dan benar. “Orang yang benar belum tentu baik karena benar menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Tapi orang yang benar adalah orang yang belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik,” tutupnya.

Memandang Islam yang Lebih Luas

Bicara tentang batas celana dalam Islam seperti celana cingkrang, celana dengan batas antara betis dan mata kaki, atau gerakan telunjuk saat duduk tahiyat ketika shalat adalah bagian kecil dari Islam.

Seperti telah diketahui, agama Islam mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, hubungan manusia dengan dirinya, serta hubungan manusia dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Penciptanya tercakup dalam masalah akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya diatur dengan hukum akhlak, makanan dan minuman, serta pakaian. Selain itu, hubungan manusia dengan sesamanya, diatur dengan hukum muamalah dan ‘uqubat (sanksi).
Dari pengajian bulanan Pemkota Tangerang, 23 November lalu di Pinang, Kota Tangerang, yang dipandu oleh Dr. KH. Nuralam Bahtir, MA, KH. Husin Ma’arif, KH. Ahmad Bahsan Nasuhi, dan Ustadz Abdul Hamid, dapat disimpulkan Islam telah memecahkan persoalan hidup manusia secara menyeluruh dengan menitikberatkan perhatiannya kepada umat manusia secara integral, tidak terbagi-bagi.

Dengan demikian, kita melihat Islam menyelesaikan persoalan manusia dengan metode yang sama, yaitu membangun semua solusi persoalan tersebut di atas dasar akidah, yaitu asas rohani tentang kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah, kemudian dijadikan asas peradaban Islam, asas syariat Islam, dan asas negara. “Islam itu luas, jadi memandangnya juga harus dengan pola pikir yang terbuka,” kata Dr. KH. Nuralam Bahtir, MA.

Syariat Islam telah menopang sistem kehidupan dan memerinci aturannya. Ada peraturan ibadah, muamalah, dan ‘uqubat. Syariat Islam tidak mengkhususkan akhlak sebagai pembahasan yang berdiri sendiri, namun Islam telah mengatur hukum-hukum akhlak dengan anggapan bahwa akhlak adalah bagian dari perintah dan larangan Allah SWT, tanpa melihat lagi apakah akhlak harus diberi perhatian khusus, melebihi hukum dan ajaran Islam yang lain. Bahkan, pembahasan akhlak tidak begitu banyak sehingga tidak dibuat bab tersendiri dalam fiqih. Para fuqaha (ulama fiqih) dan mujtahid tidak menitikberatkan pembahasan dan penggalian hukum dalam masalah akhlak.

Seorang Muslim ketika menyambut seruan Allah Swt untuk berlaku jujur, maka dia akan jujur. Apabila Allah Swt memerintahkannya untuk amanah, dia akan amanah. Begitu pula apabila Allah Swt melarang curang dan berbuat dengki, dia akan menjauhinya.
Dengan demikian, akhlak dapat dibentuk hanya dengan satu cara, yaitu memenuhi perintah Allah Swt. Untuk merealisasikan akhlak yaitu, budi pekerti luhur dan amal kebajikan. Sifat-sifat ini muncul karena hasil perbuatan, seperti sifat ‘Iffah (menjaga kesucian diri) yang muncul dari pelaksanaan shalat.

Allah Swt telah memerintahkan jujur, amanah, punya rasa malu, berbuat baik pada kedua orang tua, silaturahim, menolong orang dalam kesulitan dan sebagainya.
Semuanya merupakan sifat akhlak yang baik dan Allah Swt. menganjurkan kita terikat dengan sifat-sifat ini. Sebaliknya, Allah Swt. melarang sifat-sifat yang buruk, seperti berdusta, khianat, dengki, durhaka, melakukan maksiat, dan sebagainya.
Pengajian bulanan Pemkot Tangerang kali ini diikuti oleh sekitar 1.000 jemaah. Hadir dalam kesempatan ini, Wakil Walikota Tangerang, Arief R. Wismansyah.

Lebih jauh Dr. KH. Nuralam Bahtir, MA, menuturkan, perjalanan Islam sangatlah berliku dan panjang. Apalagi jika bicara tentang fatwa-fatwa dan aturan hukum kehidupan dalam Islam. “Kunci utama sebagai pegangan hidup adalah Al Quran dan hadist. Jika tidak ada dalam keduanya, barulah beralih kepada ajaran para Mufti,” tegas Dr. KH. Nuralam Bahtir MA lagi.

Menurut Dr. KH. Nuralam Bahtir, MA, hingga kini, ada 4 Mufti besar yang ajarannya terus dipakai hingga sekarang. Mereka adalah Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali. “Mereka mengajarkan hal-hal yang berbeda. Mulai dari Al Quran dan Hadist hingga menempatkan hukum dalam budaya lokal setempat,” tegas Dr. KH. Nuralam Bahtir, MA.

Poin utama dari pengajian bulanan Pemkot Tangerang kali ini, melalui siraman rohani yang disampaikan oleh Dr. KH. Nuralam Bahtir, MA, adalah Islam mengatur dan mengajarkan segala aspek kehidupan manusia. “Mengamalkan Islam harus sesuai aturan dan terlalu kaku,” pungkas Dr. KH. Nuralam Bahtir, MA.

Pengajian bulanan ini diawali dengan pembacaan Yassin dan Tahlil yang kemudian dilanjutkan dengan Istigosah dan ditutup dengan siraman rohani. Selain dihadiri oleh jamaah umum, hadir juga sejumlah camat dan lurah dari wilayah Kota Tangerang.

Proteksi Agama Agar Anak Aman Bersahabat dengan Media

Informasi dan teknologi menjadi sahabat dekat manusia sekarang ini. Meski begitu, untuk anak-anak, tanpa proteksi dan pengawasan yang baik, kedua hal tadi bisa jadi sumber kesesatan dan dosa.

Dari sisi positif, media dapat menjadi sumber informasi dan pembelajaran yang memberi banyak manfaat. Namun dalam bentuk negatifnya, media ibarat kotak pandora yang menginfeksi masyarakat dengan beragam penyakit. Mulai dari kecanduan menonton, bias realitas hingga penanaman nilai-nilai buruk.
Di antara semua jenis media massa, televisi merupakan salah satu media yang paling berpengaruh dalam membentuk watak dan perilaku seseorang. Parahnya, lantaran lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton televisi, anak-anak adalah objek yang paling besar kemungkinannya untuk dipengaruhi. Anak-anak Indonesia menghabiskan waktu untuk menonton televisi sekitar 30-35 jam per minggu atau 4-5 jam per hari.
Psikolog Bougenville Therapy & Child Development Center, Fanny Erla Z berpendapat, dampak negatif media akan berimbas pada perkembangan anak secara psikologis. Mulai dari terhambatnya perkembangan hingga perilaku-perilaku menyimpang.

Oleh karena itu, kini konsep literasi media atau melek media banyak didengungkan banyak pihak. Literasi media sendiri berarti kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan sebuah pesan yang disampaikan oleh media. Literasi media juga dibutuhkan agar masyarakat menjadi cerdas dalam menyerap informasi yang kian hari semakin mudah didapat.

Literasi media terutama muncul akibat perkembangan televisi. Lajunya perkembangan teknologi digital kemudian memunculkan juga literasi digital, dalam hal ini internet. Internet memiliki hampir semua fungsi media lainnya, termasuk games, berkirim pesan hingga menelepon. Untuk fungsi yang sedemikian besar, internet dapat diakses dengan biaya relatif murah.

Ibarat toko serba ada, segala macam informasi bisa didapat di internet, mulai dari ilmu pengetahuan dan teknologi hingga yang berdampak negatif seperti pornografi atau kekerasan. Ironisnya, banyak anak-anak yang kecanduan terhadap media berdampak negatif. “Sekarang banyak sekali anak yang kecanduan pornografi maupun game online, waktu belajar mereka tersita untuk hal-hal yang negatif. Untuk itu dibutuhkan pemahaman media yang memadai agar anak-anak bisa menggunakan media dengan lebih tepat,” terang Fanny.

Meski memberi banyak manfaat, literasi media belum dimanfaatkan optimal dalam dunia pendidikan kita. “Literasi media diperlukan siswa agar memiliki kemampuan dalam menggunakan media massa. Dalam hal ini sekolah bisa menjadi guidance,” ujar Muhammad Hatta, Direktur Madinah Islamic School, Serpong. Ia menambahkan, cara efektif agar siswa melek media adalah dengan pembelajaran melalui proses interaksi tentang media. Sekolah juga harus merumuskan program untuk menekan dampak negatif media. Tentunya tanpa mengekang kreativitas siswa dalam menggunakan media. Dengan kata lain, penggunaan media lebih diarahkan kepada sisi produktif siswa.

Orang tua berperan besar dalam penerapan literasi media terhadap anak-anaknya. Orang tua pun dituntut membekali anak-anak dengan pengetahuan agar dapat memilah media yang tepat. Selain menggunakan piranti pengaman akses halaman internet, sharing dengan si buah hati dan pendampingan adalah juga cara tepat agar anak melek media.

Satu hal yang tak boleh dilupakan manakala memproteksi anak-anak dari dampak negatif media, apapun jenisnya, adalah meningkatkan nilai keimanan anak. Caranya tentu saja dengan memperdalam ilmu agamanya. Dan sebagai muslim, orangtua wajib mengenalkan anak kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Al Quran, serta hari kiamat. Jika seorang anak semakin dekat dengan agamanya, tentu ia akan merasa takut untuk berbuat sesuatu yang dilarang agamanya, meski tanpa didampingi orangtuanya.

Yayasan Pendidikan Al-Chasanah

Tegakan Ajaran Islam Lewat Pendidikan

Perpaduan antara ilmu agama dan ilmu dunia yang seimbang melahirkan manusia berkarakter mulia sekaligus pandai. Meski berlomba dengan kencangnya laju modernitas, semangat untuk terus menegakan ajaran Islam tak sedikit pun boleh padam.

Yayasan Pendidikan Al-Chasanah murni merupakan yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Yayasan pendidikan, atau yang tepatnya berbentuk sekolah ini membangun institusi pendidikan berbasis Islam dengan landasan tauhid. Artinya, sekolah yang berlokasi di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat ini dibuat untuk menanggulangi materialisme pendidikan dengan tidak mengesampingkan unsur kualitas.
Dijelaskan oleh Koordinator Pendidikan Yayasan Al-Chasanah, H.M. Joesoef Effendi, dalam proses belajar mengajar, Al-Chasanah berpegang pada Islam dengan orientasi pada peningkatkan mutu sumber daya manusia, cita-cita Proklamasi dan UUD’45.

Yayasan Pendidikan Al-Chasanah merupakan yayasan yang bergerak membantu pemerintah dalam bidang pendidikan di wilayah NKRI. Pada tahun 1961, keluarga besar Chasanah memulai sekolah ini dari keluarga besarnya sendiri yang ke depannya menjadi cikal bakal Yayasan Al-Chasanah.

Program unggulan dari sekolah ini adalah penerapan Akhlaqul Karimah. Dengan artian, kurikulum berbasis agama bukan cuma tertulis, tetapi juga terkonsentrasi secara nyata pada penerapannya, baik pada setiap murid, guru, bahkan orangtua murid. Mereka harus menerapkan Akhlaqul Karimah ketika mulai menginjakkan kaki di sekolah ini.

Akhlaqul Karimah sendiri, jelas Joesoef, di antaranya adalah berakhlak, berakal, dan beramal. “Inilah program unggulan pendidikan Al-Chasanah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional dari Diknas yang banyak menitikberatkan pada agama Islam sebagai landasan kurikulum. Dan dalam setiap pengajarannya, kami senantiasa menumbuhkan kesadaran sendiri kepada anak didik,” tukas Joesoef lagi.

Yayasan pendidikan Al-Chasanah memiliki 5 jenjang pendidikan, yakni TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Pendidikan dengan basis ajaran Islam diterapkan di masing-masing jenjang.

“Akhlaqul karimah adalah ciri khas pendidikan di sekolah Al-Chasanah. Hal ini dilandasi perilaku Nabi Muhammad SAW yang wajib dijadikan teladan oleh umat muslim,” ujar Joesoef menambahkan.

Dikutip dari Q.S Al Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Ajaran-ajaran Islam yang jadi acuan utama tidak semata hanya menjadi slogan. Semua aspek yang terlibat di sekolah Al Chasanah, mulai dari siswa, guru, karyawan, orangtua murid, hingg ke jajaran para pimpinan wajib menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dengan sebaik-baiknya. “Yang paling sederhana, di lingkungan sekolah kami membiasakan kepada siapa pun untuk memulai suatu pekerjaan dengan mengucap basmalah dan mengakhirinya dengan ucapan hamdalah,” terang Joesoef.

Lebih jauh Joesoef menjelaskan, pendidikan yang seimbang antara agama dan ilmu pengetahuan umum juga diperhatikan oleh sekolah Al-Chasanah. Menurut Joesoef, seorang anak didik akan berguna di masyarakat manakala memiliki ilmu dunia dan agama yang sebanding. “Ilmu pengetahuan wajib diimbangi dengan moral dan akhlak yang mulia,” ucapnya.

Masjid Raya Bani Umar

Perpaduan Keindahan Seni dan Kemegahan

Masjid Raya Bani Umar Bintaro Jaya didirikan atas prakarsa keluarga mantan wakil presiden Indonesia periode 1983-1988, yaitu Alm. Umar Wirahadikusumah. Proses pembangunan masjid ditandai dengan penacapan tiang pertama pada 7 Juli 2007. Masjid ini diresmikan pemakaiannya pada 10 Oktober 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tanggal ini bertepatan dengan tanggal lahir Alm. Umar Wirahadikusumah.

Bila kita melintas di Jl. Graha Raya Bintaro Jaya menuju Pondok Jagung, kita akan mendapati masjid megah ini berada di sisi kiri. Dengan kombinasi warna orange dan merah yang mencolok di beberapa sisi dinding dan menaranya, masjid yang dibangun di atas lahan seluas 1,2 hektar ini sungguh benar-benar menampilkan arsitektur yang unik dan menawan.
Masjid Raya Bani Umar dirancang oleh arsitektur Fauzan A.T. Noe’man, B.FA, B.Arch, IAI yang juga merupakan Direktur Utama PT. Biro Arsitektur Achmad Noeman (PT. BIRANO) yang sangat terkenal dengan desain-desain masjid yang cantik, unik dan berbeda seperti halnya masjid At-Tin, Jakarta Islamic Center, Al-Markaz, Masjid Raya Batam Center, dan lain sebagainya.

Masjid dengan Menara Tertinggi

Keunikan utama dari masjid ini adalah desainnya, bila kebanyakan masjid umumnya identik dengan keberadaan kubah, Masjid Raya Bani Umar tak memiliki kubah sama sekali. Disain ini merupakan salah satu ciri utama masjid rancangan Fauzan A.T. Noe’man. Ketiadaan kubah ini tak mengurang kemegahan Masjid Raya Bani Umar sedikit pun. Lagipula, kubah memang bukan unsur wajib yang harus dimiliki setiap masjid. Menara masjid yang menjulang setinggi 59,62 meter seakan menjadi jawaban yang tepat pengganti kubah. Tinggi menara Masjid Raya Bani Umar juga tercatat sebagai menara masjid tertinggi se-Tangerang.

Kemegahan masjid ini dapat langsung terasa ketika kita memasuki pintu gerbang, tampilan halaman yang luas langsung tersaji. Deretan pepohonan palem berdiri rapi di antara deretan rerumputan yang ditata laksana garis shof sholat. Lampu taman dengan ornamen yang selaras dengan masjid pun tak ketinggalan menghiasi pelataran halaman yang menghadap ke pintu utama masjid.

Di bagian bawah dari bangunan masjid ini terdapat ruang serbaguna, minimarket, kantor, dan ruang-ruang meeting. Untuk menuju ke ruang sholat utama, kita dapat melalui tangga yang berada di bagian depan masjid. Masjid ini memiliki ruang serambi yang lumayan luas. Dari ruang serambi ini kita bisa melihat panorama halaman masjid serta lingkungan sekitar.

Selain arsitekturnya, masjid yang konon menelan biaya sebesar Rp 2 Miliar ini juga didukung tata cahaya, sirkulasi udara, serta perpaduan warna yang selaras. Hamparan karpet empuk warna merah marun dapat ditemui di lantai dua yang menjadi ruang utama dari masjid ini. Lantai utama ini bisa diakses lewat anak tangga yang luas dan langsung terhubung dengan halaman utama atau bisa juga lewat anak tangga yang ada di sisi kanan kiri dari dalam bangunan. Tersedia pula ruang sholat tambahan di lantai tiga. Sementara lantai dasar dijadikan semacam aula (ruang pertemuan) dan toilet serta tempat wudhu yang tak kalah apiknya.

Di ruang utama masjid ini, kita akan menemui tampilan kaligrafi besar terlihat menempel di dinding sisi mihrab. Ornamen kaligrafi bertuliskan Allah Subhanahu Wata’ala dan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tampak indah menghias di atas dinding marmer di sisi kiblat.

Pencahayaan dan Sirkulasi Udara
Sementara di langit-langit masjid tampak lampu-lampu yang didisain unik menggantung dengan indah. Hampir semua aspek di masjid ini didesain dalam bentuk yang selaras. Mulai dari lampu gantung, daun pintu, pembatas shof hingga teralis yang menjadi pagar pada bagian teras didesain dalam bentuk dan corak yang senada.

Kondisi pencahayaan dan sirkulasi udara pun tak lepas dari perhatian sang arsitek. Tak hanya dari segi estetika, secara fungsional pun masjid ini dirancang dengan tepat. Hampir di semua sisi dinding Masjid Raya Bani Umar terdapat ventilasi udara yang dirancang selaras dengan ornamen-ornamen pendukung lainnya. Dengan banyaknya sumber sinar matahari, pada siang hari kondisi cahaya di dalam ruangan masjid cukup terang meski tanpa menghidup lampu. Belum lagi banyaknya ventilasi udara yang membuat ruangan di masjid selalu sejuk. Dipadukan dengan empuknya karpet merah marun yang membentang di ruang utama, para jemaah pun akan merasa lebih khusuk dan nyaman dalam menunaikan ibadah.

Fasilitas pendukung
Beragam fasilitas pendukung melengkapi masjid yang dikelola oleh Yayasan Bakti Djayakusumah ini, mulai dari untuk keperluan ibadah hingga sosial kemasyarakatan lainnya. Seperti ruang pertemuan, ruang rapat/training, ruang belajar, klinik dan beberapa armada ambulance dan jenazah. Masjid raya bani umar memang tergolong memiliki banyak kegiatan. setiap minggu selalu ada kegiatan yang dilangsungkan, seperti pengajian ibu-ibu yang digelar setiap hari selasa dan pengajian bersama yang dilangsungkan setiap hari minggu. Dengan beragam fasilitas yang dimiliki, Masjid Raya Bani Umar menjadi salah satu sentra kegiatan keagamaan di kota Tangerang Selatan.

Bila Anda melintas di Jalan Raya Graha Raya Bintaro, Kelurahan Perigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, tempat dimana masjid ini berada, jangan sungkan-sungkan untuk mampir saat waktu sholat tiba. Jika memang belum saatnya adzan dikumandangkan, tak ada salahnya jika sejenak menikmati keindahan desain, arsitektur masjid yang diarsiteki oleh Fauzan Ahamd Noe’man ini. Lokasi Masjid Raya Bani Umar sendiri berdekatan dengan Kantor Kecamatan Pondok Aren, Mapolsek Pondok Aren dan belasan cluster mewah milik pengembang ternama, Bintaro Jaya dan BSD City.

SWIFT Syariah sesuai Murabah

SWIFT mengumumkan bahwa standar pesan ISO 15022 untuk memproses transaksi Murabaha treasury telah disertifikasi sesuai standar keuangan Islam internasional yang diterbitkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial Institutions). Sertifikasi ini memudahkan jalan bagi proses otomatisasi transaksi Murabaha treasury yang kabarnya mewakili 60% dari seluruh lembaga keuangan Islam.

Murabaha mencakup transfer uang dan perdagangan komoditas. SWIFT telah lama melakukan transaksi transfer keuangan. Tapi selama ini, perdagangan komoditas selama ini dilakukan secara manual. Biasanya dilakukan melalui fax tanpa adanya standar yang diakui secara global. SWIFT akhirnya mengeluarkan solusi untuk menggunakan standar pesan ISO 15022 dengan panduan dari Buku Pedoman Murabaha (panduan dapat diunduh dari www.swift.com/IslamicFinance).
“AAOIFI bertanggung jawab untuk standar industri keuangan Islam global dan kami telah menciptakan praktek keuangan terbaik bagi industri ini. Kolaborasi kami dengan SWIFT bertujuan untuk membangun infrastruktur keuangan Islami internasional yang baik secara struktur maupun regulasi,” ujar Sekertaris Jenderal AAOIFI, Dr. Mohamad Nedal Alchaar.

Chief Executive SWIFT untuk Eropa, Timur Tengah dan Afrika, Alain Raes, yang mewakili SWIFT dalam menerima sertifikat pengesahan pada konferensi Sibos di Amsterdam mengatakan, SWIFT sangat berbahagia menerima pengesahan dari AAOIFI. SWIFT dan AAOIFI memiliki tujuan yang searah dan kami melayani pelanggan yang sama. Otomatisasi Murabaha merupakan langkah awal untuk perjalanan panjang kolaborasi kami pada komunitas finansial Islami.

Penggunaan pesan keuangan sesuai ISO 15022 pada SWIFT tidak akan mengubah proses antar bank sebagaimana yang telah berlangsung saat ini, yaitu proses antara nasabah dan perantara. Namun, data yang diperoleh pada kesepakatan utama Murabaha saat ini ini diubah dengan menggunakan pesan yang telah distandarisasi melalui SWIFT.
Sebelumya, kesepakatan konfirmasi bilateral ini diubah secara manual. Pihak-pihak yang tergabung di Murabaha akan mendapatkan keuntungan dari standar elektronik kesepakatan global, yaitu otomatisasi yang akan mengarah kepada penurunan biaya dan resiko serta jejak audit untuk pelaksanaan ketentuan syariah.

Mohammed Paracha, Wakil Kepala Keuangan Islami Global pada praktek hukum internasional Norton Rose Group menggarisbawahi kemungkinan proses Murabaha pada SWIFT. Mr. Paracha memberikan komentar, “Industri keuangan Islami akan mengandalkan transaksi Murabaha sebagai lapisan dasar dari likuiditas manajemen. Di saat ketiadaan alternatif, industri harus melihat langkah awal yang dilakukan oleh SWIFT dan pengesahannya oleh AAOFI sebagai langkah yang luar biasa positif. Hal ini mengurangi biaya dasar operasional back office untuk setiap perdagangan. Sebagai tambahan, implementasi dari pesan SWIFT pada sistem dapat mengarah kepada otomatisasi pelaksanaan ketentuan Syariah dan audit.

Lebih dari 240 bank Islami yang mewakili 84% dari pelaksanaan aset Syariah global merupakan anggota dari SWIFT. “Kami telah bekerjasama dengan sejumlah bank dan perantara di Bahrain, Kuwait, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Malaysia dan Inggris untuk memahami kebutuhan mereka serta melaksanakan pesan
keuangan sesuai ISO 15022 sebagai solusi,” kata Head of SWIFT’s Islamic Finance Initiative, Peter Ware.

Keuangan Islami tumbuh lebih dari 20% per tahun. Akibatnya, permintaan untuk pelaksanaan standar pesan keuangan Syariah juga terus bertumbuh. SWIFT bekerjasama dengan komunitas keuangan Islami untuk menjawab tantangan ini, yaitu pada level bank secara individual dan organisasi seperti AAOIFI dan AIBIM (the Association of Islamic Banking Institutions Malaysia).

Syukuran Setahun MT Ass Syukuriah

Pengajian Majelis Ta’lim Ass Syukuriah mengadakan syukuran dalam rangka memperingati satu tahun terbentuknya pengajian pimpinan Hj. Heni Gunawan di Majelis Ta’lim Ass Syukuriah, Giri Loka 2 BSD, Senin (22/11).

Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB ini, berlangsung sederhana. Sebanyak empat puluh anggota pengajian MT Ass Syukuriah mengikuti acara yang di isi dengan ceramah agama yang dipimpin Ustadz Budi dan ditutup dengan doa bersama. Pimpinan Pengajian Ass Syukuriah, Hj. Heni Gunawan mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur atas hari jadi pengajian Ass Syukuriah yang pertama.
Acara ini sekaligus dijadikan sebagai momen untuk menambah hubungan silahturahmi antar anggota. Ke depannya, Ass Syukuriah mempunyai program untuk lebih menjangkau masyarakat khususnya di daerah perumahan. Tidak hanya di perumahan, pengajian ini terbuka juga untuk umum. Semakin bertambah usia diharapkan pula pengajian ini bertambah anggotanya.

“Kami terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung. Kami juga berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat lain. Semoga pengajian ini semakin berkembang dan dapat melakukan banyak kegiatan di masa-masa yang akan datang,” kata Heni.

Selain fokus pada kegiatan keagamaan, pengajian ini juga aktif pada aksi sosial. Pada momen tertentu, anggota pengajian kerap mengadakan kegiatan sosial, baik yang dikemas dalam bentuk bakti sosial ataupun pemberian sumbangan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Majelis Ta’lim Bani Umar Berdayakan Masyarakat

Demi memberdayakan masyarakat, khususnya kaum perempuan di lingkungan Bintaro dan sekitarnya, Majelis Ta’lim Bani Umar Bintaro, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar pengajian rutin setiap Selasa. Tujuan pengajian rutinan tersebut untuk mengembangkan potensi dan wawasan masyarakat, khususnya pemberdayaan kaum ibu-ibu di wilayah tersebut.

Sebagian besar pembicara yang kerap memberikan siraman rohani di antaranya, Ustad Restu yang dikenal dengan Ustad Cinta, Mamah Dedeh, Ustad Mansyur, dan masih banyak lainnya.
Majelis Ta’lim Bani Umar mempunyai visi sebagai wadah untuk menjembatani seluruh majelis ta’ lim di sekitar lingkungan Masjid Raya Bani Umar. “Tujuan agar seluruh majelis ta’lim yang ada bersinergi. Sedangkan untuk misinya, sebagai wadah ukhuwah islamiyah yang mengembangkan potensi dakwah yang ada di wilayah tersebut,” kata Sekretaris Majlis Ta’lim Bani Umar, Nita Meutia.

Adapun konsep pengajian rutinan tersebut berbeda-beda, disesuaikan dengan tema yang sudah ditentukan sebelumnya. Tema yang dibahas pun beragam, seperti fikih, tauhid, syariah, amaliyah, ilmu tasawuf, tafsir, dan lain-lain. “Untuk pembicara Selasa lulusan S2, sedangkan untuk hari Minggu lulusan S3,” tambahnya.

Hal yang menjadikan pengajian tersebut biasa diikuti kaum berpendidikan tinggi disesuaikan dengan kualitas, keberadaan, lingkungan dan keadaan fisik masjid itu sendiri. “Memang ke depannya, Masjid Raya Bani Umar ingin menjadi leader untuk Forum Masjid yang ada di Tangerang Selatan. Pola pikir jamaahnya sendiri adalah orang yang rata-rata berpendidikan dan disesuaikan dengan lingkungan. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi warga kampung pun sangat boleh untuk bergabung,” jelasnya kembali.

Ibu-ibu jemaahnya sendiri juga sering melakukan berbagai keterampilan, salah satunya belajar memasak. Mereka juga dilibatkan dalam penanganan donasi untuk pengumpulan dan penyaluran sedekah yang bekerja sama dengan Dompet Duafa.

Hal tersebut juga diakui Humas Majelis Ta’lim Bani Umar, Nining Aidil, kata dia, selain pengajian yang diikuti oleh kalangan menengah ke atas, kami juga kerap melakukan kegiatan pembelajaran bagi masyarakat sekitar yang belum bisa baca tulis Al-Quran.

Selain itu, ada pula kegiatan lain yang dilakukan oleh para remaja masjid pada malam Selasa, malam Rabu, dan malam Kamis. Untuk malam Sabtu, rutin dilaksanakan Salat Qiyamulail sampai Subuh. Dilanjutkan dengan kajian Tafsir Qur’an, TPA, latihan terjemah Quran yang bekerjasama dengan Masjid Istiqlal Jakarta, balai pengobatan, penyaluran bantuan pada seluruh bencana-bencana yang ada.

Ke depannya, pengajian rutin akan diawali dengan pembacaan Al-Quran sebelum masuk pada ceramah. Hal itu dimaksudkan agar setiap jamaah bisa membaca Al-Quran dengan tartil. Pun latihan sholawat yang dibimbing oleh Imam Masjid Raya Bani Umar.

“Tujuannya untuk memberdayakan jemaah majelis ta’lim di sini. Baca tulis Al-Quran bisa, ngaji, bisa, sholawat bisa, dan berdakwah juga bisa. Di sini juga sebagai pencari bibit-bibit yang nantinya bisa berdakwah untuk pengajian ini ke depannya,” pungkasnya.

YMDAI Bagikan Daging Qurban

Dalam rangka Idul Adha 1431 H, Yayasan Majlis Dzikir Al Ikhlas (YMDAI) membagikan paket lebih dari 200 paket daging qurban. Kegiatan yang rutin di gelar YMDAI setiap Hari Raya Idul Adha ini, dilangsungkan di Sekretariat YMDAI yang terletak di Jalan Murai Raya No.9 RW 06 RT 03 Panunggangan Barat, Cibodas, Kota Tangerang (17/11).

Diterangkan Al Ustadz Endang Haryana Tajuddin Syarif selaku Pendiri dan Pembina YMDAI, tahun ini YMDAI menyembelih total 19 ekor kambing. Rinciannya, di sekretariat YMDAI sebanyak 13 ekor, di Balaraja Kabupaten Tangerang empat ekor, dan sisanya di wilayah Curug sebanyak dua ekor kambing. “Melakukan qurban telah menjadi agenda rutin bagi yayasan,” ujarnya.
Endang menjelaskan, esensi dari hari raya qu rban bukan hanya sekedar tradisi membagikan daging. Pesan lebih dalam yang ingin disampaikan sesungguhnya bahwa qurban merupakan bukti ketaatan dan ketaqwaan manusia kepada Allah SWT. Tradisi Qurban perlu dilestarikan agar umat manusia sadar dan mawas diri bahwa kecintaan pada dunia semata akan mencelakaan manusia dari jalan menuju keridhoan Allah. “Hendaknya keimanan yang fundamental ada pada setiap manusia agar ada keseimbangan antara moral jaman dan sendi kerohanian dalam menyikapi perkembangan jaman,” paparnya.

Ditambahkan, Qurban sendiri diriwayatkan dari Nabi Ibrahim AS. Sejarah pelaksanaan ibadah qurban ini bermula dari pengujian kesetiaan Ibrahim terhadap Tuhannya. Pada usianya yang telah mencapai 85-an tahun, Ibrahim belum dikaruniai keturunan.
Sebagai ijabah dari permohonannya, Tuhan kemudian mengaruniakan seorang keturunan yang kemudian diberi nama Ismail (Tafsir al-Azhar, juz 23: 218). Lima tahun kemudian, Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail. Setelah dimusyawarahkan, kemudian keduanya sepakat bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Tuhan yang harus dilaksanakan. Di akhir kisah, Ismail diganti dengan seekor domba besar yang kemudian disembelih Ibrahim (QS. 37: 100-107).

Sejatinya Ibadah qurban adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah SWT yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kerja-kerja sosial. Kecintaan pada Allah SWT ditunjukkan Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya Ismail. Sesungguhnya Tuhan menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, yang disampaikan melalui mimpi, di samping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan.

Qurban secara etimologi berarti “pendekatan”, mengandung pesan tentang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mempersembahkan hidup kita untuk perjuangan membela nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan ibadah qurban bukan terletak pada persembahan daging hewan qurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan (QS al-Hajj: 37).

“Makna qurban sesungguhnya sangat dalam. Hendaknya manusia jangan hanya terjebak dalam euforia pembagian daging qurban setiap Idul Adha. Pahami makna qurban agar kita bisa belajar untuk lebih bersyukur dan ikhlas,” pungkas Endang.

Ustadz Restu Sugiharto (RUMAH JODOH INDONESIA)

Cari Jodoh Cara Islami

Menikah merupakan salah satu ibadah yang kerap dilakukan oleh manusia. Bagaimana dengan orang yang belum menikah? Tentu sebuah momen yang sangat dinanti-nanti. Faktor umum yang menimpa kaum adam dan hawa belum menikah karena belum menemukan seseorang, atau calon pasangan yang sesuai atau belum mantap.

Dari berbagai alasan para adam dan hawa itu, ada juga yang mencari calon pasangan berakhlak mulia, soleh, solehah, seiman, dan semisi dengan iman yang diyakininya. Nah, untuk menjembatani keinginan dalam menemukan tambatan hati yang sesuai, Ustad Restu Sugiharto atau yang dikenal dengan Ustad Cinta siap membantu Anda menemukan jodoh sesuai dengan dan doa dari Anda sendiri loh...
Demi membantu para jomblowan dan jomblowati, Ustad Restu hadir dengan Rumah Jodoh Indonesia (RJI) di Jalan Raya Graha Bintaro, Komplek Ruko Regia Boulevard 1 No. 33.

Ustad Cinta yang satu ini, wajahnya sudah cukup familiar dan kerap muncul di beragam program acara televisi atau iklan. Belakangan, ia lebih dikenal lagi lewat program acara pencerahan tentang cinta dan perjodohan Islami yakni Take Me Out dan Take Him Out di salah satu stasiun televisi swasta pada Ramadhan 2009 lalu.

Kata lelaki kelahiran Klaten, 8 Januari 1975 ini, menikah adalah salah satu hal yang diimpikan setiap orang. Dicita-citakan oleh lajang dan dikhalayalkan oleh orang yang masih sendirian. “Tapi, nikah oleh sebagian orang juga masih dianggap momok yang menakutkan,” ungkap ustadz yang tinggal di Komplek Graha Bunga Bintaro GB 7/3 Pondok Kacang Barat itu kepada Ma’rifat saat ditemui.

Menurut ustadz yang memiliki selera homur ini, banyak remaja yang tak berani melakukan ritual nikah dikarenakan berbagai pertimbangan. Ada yang belum siap karena belum memiliki pekerjaan, ditolak pasangan, ditolak calon mertua, belum memiliki materi, dan lain sebagainya. Dirinya berharap, dengan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya, dapat memberi inspirasi bagi orang-orang yang punya persoalan cinta, terutama bagi pasangan yang ingin segera menikah.

Nah, untuk lebih jelasnya apa dan kenapa harus RJI Ustadz Cinta ini, mari kita simak uraian bincang-bincang Ustadz Restu dengan Ma’rifat.

Ustadz, apa alasan anda membuka Rumah Jodoh Indonesia?
Alasan membuka wadah pencarian jodoh ini adalah untuk menjembatani para pemuda pemudi yang ingin menemukan pasangan hidupnya, lalu menikah. Selain itu, saya ingin ilmu dan kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT kepada saya, dapat bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Pastinya dengan konsep perjodohan Islami.

Apa sebenarnya hakikat keberadaan RJI?
Rumah Jodoh Indonesia merupakan sebuah lembaga berbadan hukum resmi yang khusus bergerak di bidang pelayanan perjodohan. Mulai dari memcarikan jodoh, konseling seputar jodoh dan keluarga, hingga membuka kelas-kelas pelatihan. Baik pelatihan untuk remaja (manajemen cinta remaja), untuk mereka yang mencari pasangan serius (kuliah pra nikah), maupun untuk keluarga (manajemen cinta keluarga).

Bagaimana sistem perjodohan yang Anda lakukan?
Sistem pencarian jodoh ini beragam caranya, sesuai dengan program-program RJI yang telah ada. Program unggulan yang baru dibuka di RJI pada tahun 2010 ini yaitu “Take Me Ta’aruf (TMT)”. TMT sebuah program perjodohan langsung yang dibalut dengan kajian khusus. Khusus anggota tetap TMT diadakan setiap Sabtu- Minggu pertama, dan Minggu ketiga. Pada Sabtu 23 Januari 2010 silam, RJI dihadiri 70 orang jamaah.

Program kedua yaitu “Prioritas”. Program yang merupakan layanan jasa dalam mencarikan jodoh langsung dengan keanggotaan selama setahun. Saat ini, anggota RJI Prioritas sudah sekitar 200 orang. Tidak hanya itu, kami juga memberikan layanan jasa konseling seputar masalah cinta, jodoh, dan keluarga yang disebut dengan program Klinik Jodoh.

Sejumlah program konsultasi tersebut apakan dipungut biaya?
Untuk berkonsultasi tidak dikenakan biaya, hanya sumbangan seikhlasnya saja. Kalau daftar jadi anggota, biayanya Rp 500.000. Keuntungan menjadi anggota, setiap jamaah akan dibantu untuk mendapatkan jodoh yang cocok. Dengan cara pengenalan langsung kepada calon pasangan setiap bulan hingga mendapatkan kecocokan.

Sampai Saat ini, ada berapa jumlah jemaah yang sudah cocok dan segera menikah?
Hingga saat ini, yang sudah cocok dan segera menikah ada 300 orang. Sedangkan yang sudah mengakui telah memiliki kecocokan ada ribuan orang.

Kiat apa yang dipakai Ustadz dalam menuntaskan masalah cinta?
Cara dalam menuntaskan masalah cinta ini memakai format 5T dan 4D. yaitu pertama tobat, target, tentukan pilihan, tengok diri sendiri dan terakhir tembak dengan 4D. yaitu yang berarti dekati orang tuanya, dekati keluarganya, dekati temannya, dan terakhir dekati orangnya. Namun jangan hanya berdua saja, tetapi harus ada orang lain di sekitar keduanya.

Apa harapan Ustadz untuk para jomblo lain?
Saya berharap para adam dan hawa yang sepantasnya sudah usia menikah, tapi belum menikah, segerakanlah menikah. Karena ada 3 jaminan Allah SWT akan segera turun, yakni akhlaknya orang menikah akan diperbaiki, rezekinya diperluas, dan martabatnya akan diangkat menjadi lebih baik.

Majelis Taklim Ass Sajadah Regency Melati Mas

Kombinasi Agama dan Sosial

Berawal dari pengajian ibu-ibu yang dilakukan dari rumah ke rumah, pada 2004 lalu dibentuklah Majelis Taklim Ass Sajadah berbarengan dengan didirikannya masjid dengan nama yang sama di bilangan Regency Melati Mas Blok SR, Serpong.

Majelis Taklim (MT) merupakan salah satu cara yang lazim digunakan sebagai sarana menjalin silaturahmi bagi umat muslim. Meski kegiatan utamanya adalah mengaji, bukan mustahil hubungan perasaudaraan dapat dieratkan.
“Pengajian sebenarnya telah dimulai sejak lama, kini anggotanya lebih dari 60 orang,” ujar Rahma Sunaryo, Ketua MT Ass Sajadah. Majelis taklim ini sendiri tergolong sangat aktif dalam mengadakan kegiatan, terutama yang berhubungan dengan keagamaan dan sosial.

Para anggota MT Ass Sajadah rutin menggelar pengajian dua kali seminggu, yakni hari Senin dan Kamis. Dimulai sejak pukul 10 pagi, acara pengajian ini ditutup dengan mengadakan shalat Dzuhur berjama’ah. Selain itu, ada juga pengajian bulanan dengan menghadirkan pembicara dari luar. Pengajian bulanan ini tak hanya diikuti oleh anggota MT Ass Sajadah saja, melainkan juga warga lain yang datang dari Serpong dan sekitarnya. Menariknya lagi, saban hari Sabtu dan Minggu, majelis taklim yang satu ini mengadakan pengajian bersama, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Pengajian ini digelar sebelum subuh dan juga diakhiri dengan shalat berjama’ah.

Dari segi kegiatan sosial, MT Ass Sajadah ini kerap mengadakan santunan bagi anak yatim piatu, terutama yang berasal dari daerah Melati Mas, Serpong dan sekitarnya. Terkadang anak yatim piatu ini juga diajak berwisata.

Sementara itu, setiap bulan Ramahdan, majelis taklim ini pun selalu mengundang anak yatim ke masjid Ass Sajadah. “Salah satu inti dari kegiatan majelis taklim ini adalah untuk saling membantu dan berbagi,” ujar Rahma.

Di samping itu, MT Ass Sajadah ini juga kerap diundang ataupun mengundang dan bekerjasama dengan beberapa rumah sakit mengadakan kegiatan, baik talkshow kesehatan maupun kegiatan lainnya. “Dengan bekerjasama dengan rumah sakit, pengajian maupun arisan kami diselingi dengan talkshow maupun seminar kesehatan. Ini tentu menambah wawasan kami,” tutur Rahma menutup perbincangan.

Tujuh Keajaiban Dunia Menurut Islam

Tujuh keajaiban dunia versi dunia sudah sering kita dengar atau baca. Bagaimana dengan 7 keajaiban versi Islam? Berikut daftarnya.

1. Hewan Berbicara di akhir zaman
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82, "Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami".

Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, "Hewan ini akan keluar di akhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu".[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)].
Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur, "Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: "Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut" .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

3. Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya.

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, "Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang".[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.

Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku di belakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. Lalu, beliau masuk ke dalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya.

Lalu, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.

Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

5. Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun".

Lalu, meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), "Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?" Wanita itu menjawab, "Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu".

Kemudian, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,"Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang di antara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, "Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, "Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat".[Lihat Fathul Bari (6/610)]

7. Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut.

Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an, "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS.An-Naml: 16-19).

Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan "Tujuh Keajaiban Dunia" yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin.


Infotaiment, Ghibah Haram Ditonton

Kita tahu televisi adalah salah satu media hiburan dan informasi yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Kemampuan audiovisual-nya telah membuat televisi unggul dibanding media informasi lain. Namun, kita perlu khawatir berkenaan dengan dampak negatif televisi.

Melalui acara-acara yang miskin akan unsur edukatif, nilai-nilai buruk yang jauh dari standar moralitas dapat tertanam pada diri para pemirsa. Para industrialis media televisi rupanya menyakini bahwa sebagian besar penonton televisi di Indonesia adalah insan yang haus akan berita sekaligus hiburan. Maka dari itu, lahirlah genre jurnalisme televisi yang bertitel jurnalisme infotaiment. Gaya pemberitaan ini merupakan paduan antara informasi dan hiburan yang terbukti ampuh untuk merebut hati para pemirsanya.
Infotaiment merupakan padua dari dua kata, yaitu informasi dan inter-taiment. Asumsi di balik kata ini adalah apa yang ditawarkan ke publik tidak sekedar informasi, tapi sedapat mungkin bisa menghibur. Bahkan aspek hiburan sering dikedepankan daripada tujuan dari informasi itu sendiri. Apa yang dikedepankan dari infotaiment adalah sisi sensasional sebuah tayangan bukan kedalaman informasi, edukasi, dan kepentingan publik.

Namun kini tidak boleh ada lagi suara renyah menyapa dengan kasak kusuk yang khas di televisi tentang rumah tangga maupun kehidupan artis. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram untuk infotaiment, baik bagi yang menayangkan, yang menonton, maupun mengambil keuntungan dari aib, gosip dan hal-hal lain terkait pribadi. Fatwa tersebut merupakan hasil dari Musyawarah Nasional (Munas) MUI di Jakarta beberapa bulan yang lalu.

Fatwa tersebut menurut Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin, ketentuan umum fatwa mengenai infotaiment, menceritakan aib, kejelekan gosip, dan hal lain terkait pribadi kepada orang lain dan khalayak, hukumnya haram.

Dalam rumusan fatwa itu juga disebutkan bahwa upaya membuat berita yang mengorek dan membeberkan aib, kejelekan, gosip, juga haram. Termasuk yang mengambil keuntungan dari berita berisi aib dan gosip.

Sementara menayangkan, menyiarkan, menonton, membaca, dan atau mendengarkan berita yang berisi tentang aib diperbolehkan, jika ada pertimbangan yang dibenarkan syar’i. Seperti untuk kepentingan menegakkan hukum, memberantas kemungkaran, menyampaikan pengaduan, meminta pertolongan, atau meminta fatwa hukum. “Fatwa infotaiment dibuat didasarkan permintaan saat ini yang dirasa sudah berlebihan,” ungkap KH Ma’ruf.

Infotaiment dewasa ini menjadi istilah populer untuk berita ringan yang menghibur atau informasi hiburan. Istilah tersebut merupakan kependekan dari istilah Inggris, yaitu Information Entertaiment. Infotaiment di Indonesia identik dengan acara televisi yang menyajikan berita selebritis dan memiliki ciri khas penyampaian yang unik.

Sementara itu, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, Prof. Nasruddin Umar MA, mengaku sangat prihatin dengan kondisi ini. Diakuinya, melalui berita kawin dan cerai dalam infotaiment telah terjadi peningkatan angka perceraian. Meningkatnya angka perceraian di tanah air dalam beberapa tahun terakhir mendapat perhatiannya. Kata dia, fenomena tersebut cendrung terus meningkat dan yang melakukan gugatan justru lebih banyak pihak isteri.

“Jika MUI jauh sebelumnya menyebut tayangan tersebut tak bermanfaat, maka pihaknya justru lebih dahulu menilai bahwa infotaiment tergolong haram,” ujarnya.
Menurutnya, tayangan infotaiment hanya sebagai hiburan semata bagi pemirsa televisi, sehingga kurang bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga menilai bahwa para pekerja infotaiment bukan para wartawan, karena hasil kerjanya bukan produk jurnalistik. “Hasil kerja infotaiment hanya merupakan produk infotaiment,” jejernya.

Maka dari itu, pihaknya menganggap infotaiment tersebut merupakan Ghibah haram ditonton. Maksud Ghibah di sini yakni, suatu perkara yang kelihatannya ringan dilakukan, dan banyak manusia baik sadar atau tidak sadar, terjerumus di dalamnya. Namun sesungguhnya, perkara ini adalah perkara haram yang mengandung dosa besar.

Sejumlah para tokoh agama Islam mendefinisikan tentang Ghibah. Ghibah menurut Imam Al-Jurjani, adalah menyebut kejelekan orang tanpa sepengetahuannya. Sedangkan At-Kafawi mengatakan Ghibah adalah berbicara mengenai seseorang tanpa sepengetahuannya.

Hukum Ghibah, para ulama sepakat memasukkannya dalam perbuatan dosa besar dan akan berakibat buruk terhadap pelakunya, jika dia tidak bertaubat. Pemilik Jawami’ul-kalim Rasulullah SAW menjadikan Ghibah sederajat dengan mengambil harta dan membunuh jiwa. Sebagaimana sabdanya : “Setiap muslim dengan muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya” (HR. Muslim).

Ikhlas itu Berat

Menerima sesuatu tentu lebih mudah dibandingkan memberi. Seperti itu pula pepatah mengatakan, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Berada di posisi “di atas” berkonotasi kepada yang lebih mulia. Maka mulialah orang-orang yang senantiasa membiasakan diri untuk memberi.

Memberi sesuatu kepada orang lain adalah sesuatu yang berat. Sementara dalam keseharian kita senantiasa dituntut untuk memberi. Baik dari sudut tuntutan agama, maupun pertimbangan tuntutan hidup sosial.

Memberi sesuatu kepada orang lain bisa berupa apa saja. Harta benda, jasa, atau sekedar senyum tulus, dan sebagainya. Suatu agama atau keyakinan senantiasa menganjurkan penganutnya untuk ”memberi” sebagai salah satu bentuk ibadah, darma, ataupun pengabdian. Memberi sesuatu kepada orang lain juga merupakan salah satu cara membangun jaringan hablun minal annas, dan menciptakan silaturahmi. Memberi menjadi sesuatu penyeimbang dalam kehidupan sosial secara moril maupun materiil.
Ikhlas adalah sesuatu yang harus melandasi “memberi” agar dia bernilai baik secara sosial maupun spiritual. Sehingga sebagian orang menganggap percuma suatu pemberian jika tidak dilandasi dengan hati ikhlas.

Sebenarnya bagaimanakah ikhlas itu? Jika melihat pengemis di pinggir jalan, lalu memberinya sejumlah uang atau apa saja yang ada pada kita atas dasar rasa iba dan kasihah, misalnya. Itu masih sangat manusiawi dan belum tentu masuk dalam kategori ikhlas. Memang terkadang kita mengenal “ikhlas” atau kerelaan hati sebagai wujud cerminan dari rasa iba atau kasihan. Pernahkah kita memberi sesuatu kepada seseorang tanpa harus kita tahu kasihan atau tidak? May be yes…, May be not!.

Seorang ahli hikmah mengatakan bahwa memberi sesuatu lantaran adanya sebab, seperti kasihan, iba, prihatin, dll. Hal tersebut belum bisa dikategorikan sebagai ikhlas. Namun tidak lebih sebagai suatu bentuk kerelaan atau ketulusan hati saja.

Terdapat perbedaan antara ikhlas dan tulus. Ikhlas itu merelakan sesuatu yang terasa berat. Sedangkan tulus adalah kerelaan hati karena faktor adanya rasa senang atau tidak ada beban. Iklhas mempunyai kedudukan yang paling tinggi di mata Tuhan. Sehingga salah bagi orang yang mengatakan percuma saja melakukan ini-itu jika tidak ikhlas. Persepsi orang selama ini terbalik, jika orang melihat berat membantu atau memberi sesuatu disebut tidak ikhlas, begitu pula sebaliknya. Berbuat ikhlas meskipun berat, seorang mukhlis senantiasa harus dilandasi dengan nama Sang Penguasa.

Ikhlas merupakan solusi positif dalam menghadapi kondisi bangsa yang carut marut oleh berbagai bencana, yang diakibatkan oleh campur tangan manusia sendiri. Melalui bencana ini, pun kita masih digembleng oleh Allah SWT untuk menjadi orang yang ikhlas dalam menerima segalanya. Termasuk ikhlas dalam memberi bantuan kepada korban meletusnya gunung Merapi, misalnya. Bencana pada bangsa ini telah membuka lebar bagi penduduknya untuk berlaku ikhlas. Semoga kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

5 November 2010

Selamat Menunaikan Ibadah Haji, Semoga Menjadi Haji Mabrur

Rombongan calon jemaah haji Kota Tangerang 2010 yang tergabung dalam dua kelompok terbang (kloter), yakni kloter 41 dan kloter 42 resmi diberangkatkan dari Masjid Raya Al-Adzhom Tangerang, Jum’at (5/11). Para calhaj ini diberangkatkan dengan bus yang akan menuju Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Pelepasan jemaah haji kloter terakhir dari Kota Tangerang ini dilakukan oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Pemerintah Kota Tangerang Ghozali Barmawi didampingi oleh H. Zaenal Arifin dan H. Mudini dari Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang.
Tak ketinggalan, ribuan anggota keluarga yang datang untung melepas calon jemaah haji ke tanah suci. Tangis haru anggota keluarga yang mengantar pun mewarnai pelepasa calhaj kali ini. Bahkan, sebelum berangkat banyak pula calhaj yang berfoto bersama keluarga.

Kloter 41 dan 42 merupakan kloter terakhir bagi calon jemaah haji Kota Tangerang. Kloter pertama yakni kloter 1 tingkat provinsi Banten atau kloter 4 tingkat nasional sendiri telah diberangkatkan dari Masjid Raya Al-Adzhom pada 13 Oktober lalu dan dilepas langsung oleh Walikota Kota Tangerang Wahidin Halim dan Wakil Walikota H. Arief R. Wismansyah.

“Total calhaj Kota Tangerang 2010 sebanyak 2.212 orang dan terbagi dalam enam kloter. Hari ini merupakan pelepasan dua kloter terakhir,” ujar H. Zaenal Arifin. Selama di tanah suci, calhaj dihimbau untuk tetap menjaga kondisi fisik dan stamina tetap fit agar dapat menyelesaikan semua tahapan haji dengan lancar. Selamat jalan calon jemaah haji Kota Tangerang. Semoga pulang menjadi haji mabrur.

3 November 2010

Kolaborasi Seni Galang Dana untuk Korban Bencana

Untuk meringankan beban mereka yang terkena musibah korban bencana alam di Indonesia, seniman-seniman Tangerang bekerjasama dengan Komunitas Milis BSD Society membuat acara penggalangan dana dalam bentuk pagelaran kolaborasi seni bertema Charity Coustic for Waisor, Mentawai & Merapi.
Sebanyak 15 kelompok seniman Tangerang dan grup band papan atas Indonesia, seperti Zigas, Tahta dan Gate of Souls ikut tampil dalam acara malam dana di Teraskota BSD City pada Rabu, 3 November 2010.

Adapun penggalangan dana dilakukan oleh para seniman dengan berkeliling Mal Teraskota dengan membawa kotak amal kepada pengunjung dan melelang hasil karya seni berupa lukisan, disain dan patung. Selain itu bagi grup band Zigas dan Tahta hasil penjualan kaset dan compact disc (CD) pada malam itu semuanya disumbangkan bagi korban bencana.

“Meskipun kami pelaku seni tetapi untuk kepedulian terhadap korban bencana alam dalam diri kami para seniman sangat tinggi. Berapapun dana yang terkumpul dari pertunjukan kolaborasi seni ini, semua untuk disumbangkan,” tutur Benny Navaro, Ketua Panitia Charity Coustic.

Selama empat jam pagelaran berlangsung dan ditambah dengan donasi lewat rekening Milis BSD Society, terkumpul dana sekitar 15 juta rupiah.”Rencananya sumbangan akan disalurkan lewat salah satu stasiun televisi swasta,” pungkas Benny.


1 November 2010

Mozaik Muslim di Amerika

Umat Muslim telah menjadi bagian dari sejarah Amerika sejak masa pra-Columbus. Makanya tidak heran bila para penjelajah dulu menggunakan peta yang dibuat oleh orang Muslim. Itu karena mereka (orang Muslim) lebih tahu tentang pengetahuan geografis dan navigasi waktu.

Beberapa ahli memperkirakan bahwa 10 - 20 persen dari budak yang dibawa dari Afrika adalah Muslim. Film "Amistad" menyinggung fakta ini, menggambarkan umat Islam yang berada di atas kapal budak. Mereka berdoa sementara kaki dirantai bersama di dek saat melintasi Atlantik. Meski tidak terdapat bukti sejarahnya, tapi hal tersebut dapat dibuktikan dari beberapa sumber terpercaya:
* Ibnu Umar Said (1770-1864) lahir di negara Muslim Futa Toro di Afrika Barat (Senegal saat ini). Dia adalah seorang sarjana Muslim dan pedagang yang ditangkap dan diperbudak. Ia tiba di South Carolina pada tahun 1807 dan dijual kepada James Owen dari North Carolina.

* Sali-Bul Ali adalah seorang budak di perkebunan. Pemiliknya, James Cooper menulis: "Dia adalah orang beragama Islam yang patuh. Tidak meminum minuman keras, berpuasa terutama di bulan Ramadhan..."

* Lamen Kebe adalah seorang budak yang menjadi seorang guru sekolah di Afrika. Ia berbagi informasi tentang teks dan metode pengajaran yang digunakan sekolah-sekolah Islam di negaranya.

* Abdul Rahman Ibrahim Sori menghabiskan 40 tahun di perbudakan sebelum ia kembali ke Afrika untuk mati. Dia menulis dua otobiografi dan menandatangani sketsa dirinya dengan Henry Inman. Sketsa tersebut tampil di sampul "Freedman's Journal" dan dipajang di Perpustakaan Kongres.

Pada saat itu, banyak budak Muslim didorong atau dipaksa untuk masuk agama Kristen. Banyak budak generasi pertama yang mempertahankan identitas Muslim mereka. Namun, dalam kondisi perbudakan yang keras, keyakinan tersebut sebagian besar hilang pada generasi berikutnya.

Islam di Amerika Selama Civil Right Era
Kebanyakan orang, ketika memikirkan Muslim Afrika-Amerika, mereka berpikir tentang "Nation of Islam." Tentu saja, pemikiran tersebut bermula dari sejarah tentang bagaimana Islam bisa berada di tengah orang Afrika-Amerika. Ada beberapa alasan kenapa Islam disukai sampai sekarang.

Di antara alasan mengapa orang Afrika-Amerika telah dan terus tertarik pada Islam adalah:
1) Banyak warisan Islam berada di Afrika Barat di mana banyak nenek moyang mereka berasal dari sana
2) Tidak adanya rasisme dalam Islam. Berbeda dengan kebrutalan dan perbudakan yang telah mereka alami selama jaman penjajahan.

Pada awal 1900-an, beberapa pemimpin kulit hitam mengupayakan untuk membantu membebaskan budak Afrika. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan kembali harga diri dan merebut kembali warisan mereka. Noble Drew Ali memulai sebuah komunitas nasionalis kulit hitam, Moor Ilmu Bait Allah, di New Jersey pada tahun 1913.

Setelah kematiannya, sebagian pengikutnya berpaling ke Wallace Fard yang mendirikan Lost-Found Nation of Islam di Detroit pada tahun 1930. Fard adalah seorang tokoh misterius yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang alami untuk Afrika dan tidak menekankan ajaran iman yang ortodoks. Sebaliknya, ia berkhotbah bahwa nasionalisme kulit hitam, dengan mitologi revisionisnya menjelaskan sejarah penindasan orang kulit hitam. Banyak dari ajaran-ajarannya yang bertentangan dengan iman Islam sebenarnya.

Kemudian pada tahun 1934, Fard menghilang dan Elia Muhammad mengambil alih kepemimpinan Nation of Islam. Fard disebut-sebut sebagai "Juru Selamat" dan pengikutnya percaya bahwa ia adalah Allah dalam daging di bumi.
Kemiskinan dan rasisme yang merajalela membuat pesan-pesanya tentang keunggulan orang kulit hitam dan "setan putih", lebih diterima secara luas. Pengikutnya, Malcolm X, menjadi tokoh publik selama tahun 1960-an, meskipun ia memisahkan diri dari Nation of Islam sebelum kematiannya pada tahun 1965.

Orang-orang Muslim melihat Malcolm X (kemudian dikenal sebagai Al-Hajj Malik Shabaaz) sebagai contoh orang yang pada akhir hidupnya menolak ajaran rasis-perbedaan dari Nation of Islam dan memeluk persaudaraan Islam yang sebenarnya. Suratnya dari Mekah, ditulis selama ziarahnya, menunjukkan transformasi yang telah terjadi. Seperti yang kita lihat sekarang, orang Afrika-Amerika telah membuat transisi dan meninggalkan organisasi nasionalis kulit hitam untuk memasuki persaudaraan Islam dunia.

Islam di Amerika Hari Ini
Jumlah Muslim di Amerika Serikat saat ini diperkirakan antara 6 - 8 juta orang. Menurut beberapa survei pada tahun 2006 - 2008, dari jumlah tersebut, 25% adalah orang Afrika-Amerika.

Mayoritas Muslim Afrika-Amerika telah memeluk Islam dan menolak ajaran rasis dari Nation of Islam. Warith Deen Mohammed, putra Elijah Muhammad, membantu memimpin masyarakat untuk bergabung dengan agama Islam yang sebenarnya.

Di samping itu, jumlah imigran Muslim di Amerika Serikat juga telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di antara imigran tersebut, sebagian besar berasal dari negara-negara Arab dan Asia Selatan. Sebuah penelitian besar yang dilakukan oleh Pew Research Center pada tahun 2007 menemukan bahwa Muslim Amerika adalah sebagian besar masyarakat kelas menengah dan berpendidikan.

Saat ini, Muslim di Amerika merupakan sebuah mosaik warna-warni yang unik di dunia. Afrika-Amerika, Asia Tenggara, Afrika Utara, Arab, dan Eropa berkumpul setiap hari untuk sembahyang dan bersatu dalam iman. Dengan pengertian bahwa mereka semua sama di hadapan Allah.


Penduduk Muslim Dunia
Hampir seperempat dari penduduk dunia saat ini adalah Muslim. Mereka tersebar di beberapa negara di dunia. Lebih dari lima puluh negara mayoritas penduduknya beragama Islam, sisanya beragama Non-yang menjadi kaum minoritas.

Meskipun Islam sering dikaitkan dengan dunia Arab dan Timur Tengah, namun jumlah masyarakat Muslim di sana ternyata tidak kurang dari 15%. Berikut negara-negara dengan populasi Muslin terbesar di dunia (2009).

Dzikir Bukan Fitnahan, Tapi Fundamental Iman Yang Kokoh

Banyaknya isu dan kenyataan yang berkembang tentang Dzikir saat ini, sering dijadikan alat untuk menjatuhkan citra seseorang.

Namun, hal tersebut bukanlah suatu halangan bagi Al Ustadz Habibullah Al-Faqir Illallah Endang Haryana Tajudin Syarif, Pendiri Yayasan Majelis Dzikir Al-Ikhlas Kota Tangerang, untuk terus menginformasikan dan mengibarkan kekuatan Dzikir sebagai fundamentalisme iman yang kokoh dalam Islam.
Hal itu disampaikannya dalam acara pengajian bulanan di Majelis Taklim At-Tin, Jalan HS Abdul Aziz No 16, Rt 01/02, Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang pada Jumat (12/10). Pengajian yang dihadiri oleh sejumlah ibu-ibu gabungan dari 87 Majelis Taklim se-Kecamatan Tangerang itu seakan membawa khalayak tersadar bahwa Dzikir itu merupakan asal usul tersebarnya agama Islam pada zaman Rasulullah SAW, serta betapa dahsyatnya makna Dzikir sesungguhnya.

Endang Haryana Tajudin Syarif menerangkan, sebelum tersebarnya Dzikir di belahan dunia, tentu atas dasar adanya sejarah. Kata dia, dari pada adanya Dzikir itu sendiri diambil dari kisah pendek seorang Muhammad (nama sebelum diangkat menjadi nabi Allah SWT). Muhammad saat itu di setiap Bulan Ramadan selalu ke Gua Hira untuk bersemedi dan menyepi menikmati alam semesta. Dengan kesabarannya yang tinggi sebagai makhluk yang diciptakan dengan segala kesempurnaannya, Muhammad berkhidmat.
Sampai pada akhir khidmatnya, Jibril Alaihi Salam datang mengajarkan suatu kata kepadanya “Ya Muhammad Iqro, dijawabnya tidak bisa”, Kemudian Muhammad Alaihi Salam dipeluk, dengan keringatnya yang mengucur dan menggigil seluruh tubuhnya untuk mengucapkan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarasulullah…”

Kemudian dia sampaikan berita itu kepada istrinya yaitu Siti Khadijah, lalu dia menyampaikan berita itu kepada pamannya. Kemudian pamannya menjelaskan tentang apa yang tersirat di dalam Injil. “Wahai Khadijah, sesungguhnya suamimu itu adalah Rasul.” Namun, Siti Khadijah tidak percaya karena merasa mereka adalah orang yang bodoh, hina, dan miskin.

Pada Bulan Ramadan berikutnya, Muhammad SAW kembali pergi ke Gua Hira. Sampai kemudian dia kembali didatangi Jibril dan dijelaskan kembali. Kemudian penjelasan Jibril itu direnungkan Muhammad untuk dihayati dan dicari tahu apa makna sesungguhnya kejadian yang menimpanya tersebut.

Pada suatu saat, Jibril kembali kepada Muhammad untuk memberitahu bahwa Muhammad akan dihijrahkan ke Siratul Muntahad. Setelah pulang dari sana, baru Muhammad yakin kalau dirinya adalah Rasul Allah. Sejak itu, Nabi Muhammad merasa semakin kuat imannya, semakin kuat rohaninya, dan semakin kuat batinnya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Lalu terbentuklah kelompok Dzikir.
“Sesungguhnya iman itu sangat luar biasa,” ungkap Ustad Endang kembali.

Dilanjutkannya, setelah Rasulullah wafat, maka majelis Dzikir itu dikelola oleh Saidina Ali. Karena Saidina Ali sudah lanjut usia lalu menyerahkan majelis itu kepada Hasan Basri (sebagai putra angkat Rasullah). Lalu, Hasan Basri diajarkan oleh Saidina Ali tentang keimanan dengan konteks Dzikrullah. Kemudian Hasan Basri membangun lembaga formal, yakni Majelis Dzikir yang dikelola oleh Saidina Ali lalu dikembangkan oleh Hasan Basri secara luar biasa, secara terbuka, sampai ke seluruh negeri secara internasional.

“Mulai dari situlah seluruh umat Islam belajar tentang majelis Dzikir. Mereka semua belajar Islam dari Dzikir. Namun pada kenyataannya, Dzikir saat ini dijadikan fitnah,” tangkasnya.

Hal tersebut jelas sangat disayangkannya. Terbukti, lanjutnya, saat ini Dzikir kerap dijadikan seperti sebuah bomerang dalam kehidupan. Banyak ragam yang menyatakan tentang fitnah terhadap Dzikir. Serta banyak orang yang menggunakan Dzikir hanya untuk menangkap dirinya. Supaya terlihat orang yang tersoleh, orang yang dekat dengan Allah, serta untuk mengangkat kredibilitasnya demi mendapatkan keuntungan dan memperkaya diri.

“La Illaha Ilallah.. sepertinya sederhana, tapi sekarang selalu menjadi bahan fitnahan. Padahal Dzikir adalah fundamental dasar sebagai penguatan iman,” jelasnya.

Sementara itu, Pimpinan Majelis Taklim At-Tin, Hj R. Tin Husna, mengungkapkan, pihaknya sangat berterimakasih dengan kedatangan Pimpinan Majelis Dzikir Al-Ikhlas. Pasalnya, pengetahuan yang diberikan kepada jemaah ibu-ibu merupakan informasi penting untuk diketahui lebih dalam mengenai apa dan mengapa harus berdzikir.

“Karena Allah SWT, saya dapat mengundang beliau. Karena masalah Dzikir itu sangat penting. Ibu-ibu belum terlalu banyak tahu tentang bagaimana, apa, dan untuk apa Dzikir itu. Dengan keberadaan Majelis Dzikir Al-Ikhlas ini, diharapkan dapat menjadi wadah bertambahnya informasi dan wawasan tentang keagamaan, saudara dan mempererat silaturahmi,” pungkasnya kepada Ma’rifat.

Kumpulan Kaligrafer Penebar Siar Islam

Indah dan Islami, hal itulah yang tersirat di pikiran kita bila melihat karya-karya kaligrafi. Belitan huruf-huruf Arab yang dihiasi berbagai ornamen warna-warni, semakin menambah kekaguman terhadap seni Islam yang satu ini.

Sebagian besar seni Kaligrafi diaplikasikan untuk menghias berbagai rumah ibadah dan rumah tinggal. Tapi dalam perkembanganya, banyak pula yang menghiasi berbagai bidang seperti koin, permata, senjata, batu alam, dan sebagainya. Bahkan, ada juga yang menerapkannya dalam lukisan atau cinderamata. Seperti terlihat di Noqtah Art Gallery yang berlokasi di bilangan Bintaro.
Tidak banyak yang bisa mengaplikasikan seni tulis huruf Arab yang isinya berupa potongan ayat Alqur'an atau Hadits Nabi SAW ini. Hal itu disebabkan karena tingkat kerumitan yang terkandung di dalamnya dan pemahaman terhadap bahasa Arab. Belum lagi penguasaan gaya desain yang biasanya harus disesuaikan dengan keinginan pemesan.

“Memang tidak mudah untuk membuat seni kaligrafi ini. Perlu ketekunan dan kesabaran tinggi dalam pengerjaannya. Detail setiap desain perlu diperhatikan dan juga skala ukur yang akan diterapkan dalam medianya nanti,” kata Direktur Utama Noqtah Art, Isep Misbah S.Ag.

Noqtah Art
Noqtah Art dimulai dari aktifitas Isep Misbah dan temannya dalam menerima order untuk membuat kaligrafi di masjid dan rumah. Awalnya, lelaki kelahiran 7 Maret 1974 ini, hanya sebatas hobi. Tapi dari situ, ternyata banyak permintaan dari masyarakat. Lalu, lulusan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tahun 2000 ini, mulai membentuk tim kaligrafer profesional yang berprestasi.

“Saya kumpulkan beberapa kaligrafer yang pernah juara dalam kompetisi kaligrafi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Setelah itu, mulailah saya bekerja secara profesional dan terbentuklah Noqtah Art secara resmi pada tahun 1997,” jelas Isep yang mengenal kaligrafi sejak di Pondok Modern Assalam, Sukabumi.

Pertama kali, Isep hanya mengaplikasikan Kaligrafi dengan media cat.Tapi sekarang, dengan Noqtah Art, alumlus Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (LEMKA) tahun 1994 ini, telah merambah media lain seperti kayu GRC, mika, kuningan, stainless steel, metal, dan batu alam. Semua media tersebut, bisa dibuatnya menjadi karya kaligrafi yang menawan.

“Selain inovasi media, kami juga mengembangkan Kaligrafi ke dalam elemen-elemen interior seperti lukisan, cinderamata, dan hiasan dinding lain,” ujar Isep yang memajang berbagai lukisan Kaligrafi senilai Rp 500 ribu sampai 25 juta di galerinya.

Dari sekian banyak order yang diterima, sebagian besar adalah pengerjaan kaligrafi untuk masjid. Berbagai tempat ibadah umat Muslim banyak dihiasi kaligrafi dari Noqtah. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga masjid di luar negeri seperti Masjid Kholid bin Walid Polis Diraja Sarawak Malaysia. “Sudah lebih dari 70 masjid dan rumah yang pernah saya kerjakan,” ucap Isep yang pernah mendapat penghargaan kategori Kaligrafi Modern dari Al-Burda Award Dubai UEA pada tahun 2009.

Gaya Kaligrafi
Dari sekian banyak gaya kaligrafi yang beredar sekarang, sebagian besar masyarakat lebih menyukai gaya Maroko dan Minimalis. Maroko khas dengan Arabes atau Zukrofah Islami. Desainnya geometris berbentuk anyaman. Lain lagi dengan gaya Minimalis yang simpel, praktis, dan terkesan kaku. “Tapi dalam penerapannya, motif harus sinergi dengan gaya arsitektur,” jelas Isep.

Kaligrafi adalah tulisan indah di mana huruf demi huruf dalam kaligrafi Arab bisa disambungkan. Jenis hurufnya sendiri sangat variatif. Begitu juga dengan gaya kaligrafinya. Pada jaman Dinasti Abasiah, terdapat lebih dari 500 gaya desain yang populer.

Sekarang ini, ada 8 jenis kaligrafi Arab yang populer. Di antaranya, Sulus, Naskhi, Ta’liq, Diwani, Diwani Jali, Riq’ah, Kufi, dan Ijazah. Lainnya disesuaikan dengan daerahnya seperti Maroko dengan gaya Maghribi-nya atau India dengan Kaligrafi Hindi.

Biasanya, dalam penerapan dan penggalian ide desain kaligrafi, Isep akan memerhitungkan ciri khas daerah dari pemesannya. Masing-masing daerah pasti memiliki simbol atau karakter tertentu yang akan ditambahkan sebagai ornamen-ornamen penghias dalam kaligrafi.

Dari beberapa proses pengerjaan, menurut Isep, paling sulit adalah fase penemuan ide desain. Di situ biasanya akan banyak waktu lama karena kaligrafi adalah produk seni dalam sebuah industri di mana kita harus bisa mengejawantahkan kemauan pemesan. Bukan semau kita, tapi harus bisa mengakomodasi kemauan pemesan.

Harga Kaligrafi
Mengenai harganya, Isep cenderung melihat tingkat kesulitan, kerumitan, dan kondisi dari proyek yang akan dikerjakannya. Seperti halnya ketika Isep mengerjakan Masjid Agung Darussalam di Sumbawa Barat. Kubah masjid tersebut memiliki ketinggian sekitar 40 meter dengan diameter lingkaran sepanjang 25 meter. Dengan resiko pengerjaan yang tinggi, maka harga pun akan mengikutinya. Tapi, kalau mau disebutkan, harga yang dipatok untuk pengerjaan kaligrafi standar menggunakan media cat acrylic, sekitar Rp 500 ribu per meter.

Sedangkan lama pengerjaan, terbilang relatif dari 1 minggu sampai 2 atau 3 bulan. Semuanya tergantung tingkat kerumitan dan juga kemauan pemesan. “Biasanya, ada yang mengejar tenggat waktu peresmian. Kalau begitu, kita harus menerjunkan tim yang cukup banyak,” kata Isep.

Sama halnya dengan Musaf Al-Quran untuk Sumbawa yang sedang dikerjakan Noqtah Art saat ini. Lama pengerjaan bisa 2 – 3 tahun. Di samping pengerjaannya yang hand made, musaf tersebut juga dihiasi berbagai ornamen daerah seperti bunga Setanggi, Lonto Engal, dan Bintang 8 yang menjadi ciri khas daerah Sumbawa. Belum lagi ukurannya yang cukup besar (1 X 1,5 meter).


Waroeng Kejujuran Dibuka Untuk Umum

SMP Al-Azhar BSD menyadari betul pentingnya sikap jujur bagi siswanya yang notabene merupakan generasi penerus bangsa. Prihatin akan maraknya korupsi yang terjadi di Tanah Air, SMP Al-Azhar BSD City mendirikan Waroeng Kejujuran dengan tujuan melatih dan menumbuhkan sikap jujur sejak dini. Pembukaan Waroeng Kejujuran merupakan salah satu upaya nyata pihak sekolah untuk melatih siswa didiknya berperilaku jujur.

Waroeng ini sendiri didirikan atas ide dan prakarsa Badan Koordinasi Orangtua Murid dan Siswa (BKOMS) SMP Al-Azhar BSD yang bekerja sama dengan pihak sekolah. Sebenarnya gerai ini telah berjalan selama dua minggu lebih sebelum akhirnya secara resmi dibuka untuk umum.
Faiz Rasidi, Guru Bidang Kesiswaan sekaligus salah satu pengelola Waroeng Kejujuran SMP Al-Azhar BSD mengatakan, Waroeng Kejujuran adalah sebagian kecil yang dapat sekolah lakukan untuk mendidik anak-anak berlaku jujur, minimal buat diri sendiri di hadapan sang pencipta. Nantinya diharapkan bila menjadi pemimpin dapat menjalankan semua amanah dengan jujur.

”Adapun modal awal warung ini diperoleh dari uang kas BKOMS dan sumbangan orangtua murid, dan pengelolaannya diserahkan oleh OSIS. Nanti anggota OSIS akan membuat laporan harian dari pengelolaan warung dan setiap minggu akan dilaporkan kepada BKOMS,” papar Rasidi. Waroeng Kejujuran tidak ada penjaga ataupun kasirnya, semua harga sudah tercantum dan pembeli tinggal membayar sesuai harga yang dibeli dengan menaruh uang di kotak yang sudah disediakan.

Waroeng Kejujuran yang dibuka mulai pukul 07.00-16.00 WIB dari Senin-Jumat. Warung ini antara lain menyediakan berbagai keperluan sekolah,seperti alat tulis, keperluan ekstrakulikuler dan aneka makanan ringan.

Pererat Silahturahim Lewat Pengajian Rutin

Sesuai dengan Hadist Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan setiap manusia harus saling berhubungan baik satu sama lain atau yang dikenal dengan Habluminnas. Dalam upaya mewujudkannya, Pengajian Mushola Nurut Taqwa, Kampung Rawa, Kelurahan Jombang merealisasikan lewat pengajian rutin setiap minggu guna terjalinnya silahturahmi antar warga sekitar mushola. Demikian dikatakan Ketua Pengajian Nurut Taqwa, Ustad Abdul Rahim, S.Pdi saat ditemui.
Menurut Abdul Rahim, kegiatan pengajian ini telah terbentuk sejak tahun 1996 bersamaan dengan rampungnya pembangunan mushola Nurut Taqwa. Pada dasarnya terbentuknya pengajian rutin ini merupakan perwujudan misi dalam menjalin dan memupuk silahturahmi antar warga sekitar mushola Nurut Taqwa dan sampai saat ini anggota pengajian Nurut Taqwa berjumlah 30 orang. “Alhamdulillah saat ini kami memiliki 30 anggota yang tetap setia mengikuti pengajian,” katanya.

Rahim melanjutkan, kegiatan pengajian Nurut Taqwa ini dilakukan setiap hari Kamis dan Minggu. Untuk hari kamis malam pengajian dilakukan dengan tahlil dan membaca surat yasin bersama, sedangkan untuk Minggu malam pengajian dilakukan dengan tausiah oleh penceramah. Setiap minggunya selalu menampilkan penceramah-penceramah yang berkompeten. “Tak jarang kami selalu mengundang para penceramah dari luar daerah untuk memberikan tausiah,”ujarnya.

Pengajian mushola Nurut Taqwa ini tergabung dalam Forum Silahturahim. Forum ini adalah kumpulan dari pengajian-pengajian mushola dan masjid se-Kelurahan Jombang dan Pondok Pucung. Setiap satu bulan sekali Forum ini menggelar sholat subuh gabungan, yaitu sholat subuh yang dilakukan oleh seluruh anggota pengajian Forum Silahturahim. Secara bergiliran tiap bulannya kandang tandang ke mushola dan masjid untuk melakukan sholat subuh bersama. “Secara otomatis kegiatan ini menambah dan emmperluas jangkauan silahturahmi yang kita inginkan bersama,” tutup Rahim

Muhammad Sirri Djamhuri - Antara Kewajiban dan Kecintaan

Semangat untuk terus menyebarkan dan menegakan ajaran Islam tampak terlihat jelas di sosok Muhammad Sirri Djamhuri, Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ma’Mur, Kreo Selatan, Kecamatan Larangan Cileduk, Kota Tangerang. Menurut pria yang akrab disapa Ustadz Sirri ini, salah satu cara untuk terus menghidupkan Islam adalah dengan menguatkan pondasi pendidikan Islam sendiri.
Melalui ponpes yang dipimpinnya, ustadz muda kelahiran Tangerang, 27 November 1975 ini berusaha memberikan pendidikan Islam yang terbaik untuk para santrinya. “Yang paling utama dari kegiatan saya adalah menyebarluaskan ilmu agama, kemudian baru menyentuh misi sosial,” katanya.

Dalam kesehariannya, alumnus Ponpes Al Alim, Cikalong, Bandung, Jawa Barat ini mengaku total mengurus Ponpes Al Ma’Mur. Awalnya, kata Ustadz Sirri, adalah pemberian tanggung jawab dari ayahandanya, KH. Djamhuri Marzuki, pendiri ponpes ini. “Lama kelamaan, mengurus ponpes ini menjadi sebuah kecintaan,” ujarnya lagi.

Berbicara mengenai ponpesnya, Ustadz Sirri mengaku masih ingin terus meningkatkan kualitas pendidikan dan sarana lainnya untuk para santri. Ia ingin membekali para siswanya, tidak hanya dengan ilmu agama yang mumpuni tapi juga dengan ilmu dunia yang baik.

“Meski porsinya lebih besar ilmu agama, keduanya juga harus diseimbangkan. Agar para santri dapat semakin bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata bapak 3 anak ini menutup perbincangan.

Pondok Pesantren Al Ma’Mur - Santrinya Anak Yatim dan Siswa Putus Sekolah

Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ma’Mur berdiri pada tahun 1969 silam. Ponpes yang berlokasi di Jl. Pesantren, Kreo Selatan, Kecamatan Larangan Cileduk, Kota Tangerang ini didirikan oleh KH. Djamhuri Marzuki.

Ponpes Al Ma’Mur mendidik para santrinya dengan konsep pembelajaran diniyah, atau pengajian klasikal. Dijelaskan oleh Pimpinan Ponpes Al Ma’Mur, M. Sirri Djamhuri atau yang akrab disapa Ustadz Sirri, kegiatan utama para santri adalah mengaji Al Quran.
“Kegiatan belajar pesantren dilakukan ba’da Ashar hingga malam hari. Pada saat itu, para santri akan belajar mengaji Al Quran yang dilanjutkan dengan dzikir Rotibul Hadad,” kata Ustadz Sirri.

Selain mengaji, para santri juga dibekali dengan kemampuan berkhotbah. Pembelajaran berkhotbah ini disebut muhadaroh, yang dilakukan seminggu sekali setiap Sabtu malam. Kemudian, pada malam Jum’at, para santri juga diwajibkan untuk membaca Yasin dan bertahlil.

Di Ponpes Al Ma’Mur, untuk tahun ini terdapat 80 santri, baik pria maupun wanita. Menurut Ustadz Sirri lagi, sebagian besar dari mereka berasal dari luar Jakarta atau Tangerang seperti Serang, Pandeglang, Karawang, dan Bandung.

Jenjang pendidikan di Ponpes Al Ma’Mur ini terbagi menjadi empat tingkatan, yakni Ibtida, Ula, Ustho, dan Ulya. Pembagian jenjang ini tidak berdasarkan usia, melainkan berdasarkan kemampuan mengaji siswa.

Yang juga menarik dari ponpes yang satu ini adalah para santrinya yang sebagian besar adalah anak yatim atau anak-anak putus sekolah. Sejak awal ponpes ini berdiri, kata Ustadz Sirri lagi, memang seperti itulah adanya. “Santri yang mondok di ponpes ini kebanyakan adalah anak yatim dan siswa putus sekolah. Mereka bisa belajar di sini tanpa harus membayar. Pun begitu ada juga beberapa santri yang berasal dari keluarga berkecukupan,” ujarnya.

Untuk perekrutan atau pendaftaran calon santri di Ponpes Al Ma’Mur, biasanya dilakukan oleh para alumni pesantren.

“Santri yang sudah selesai belajar di sini, biasanya akan kembali ke daerahnya masing-masing. Dan di sana mereka akan menyebarluaskan ilmu pengetahuannya. Dari situlah mereka bias merekomendasikan pesantren ini kepada anak yatim atau anak putus sekolah,” jelas Ustadz Sirri lagi.

Ponpes Al Ma’Mur ini sendiri bernaung di bawah Yayasan Kesejahteraan Umat Islam Indonesia (Yakiin), yang diketuai oleh Naufal Djamhuri. Ponpes ini member memberi perhatian lebih kepada anak-anak yatim dan siswa putus sekolah.

Sejumlah kegiatan lain juga dimiliki oleh ponpes ini, antara lain adalah seni Islam qosidah hadroh dan pencak silat beksi.

Lebih jauh Ustadz Sirri menuturkan, ia merasa ponpes ini masih sedikit memiliki kekurangan, terutama pada bidang fasilitas belajar untuk para santri. Yang dimaksudkannya adalah laboratorium komputer dan program keahlian kerja nyata seperti bengkel otomotif atau menjahit untuk para santrinya.

“Hal-hal itulah yang tengah kami upayakan. Kami juga sangat berharap para santri di sini tidak hanya menguasai ilmu agama saja, tapi juga memiliki kemampuan kerja yang bisa diaplikasikan langsung di masyarakat. Karena itu, jika ada pihak-pihak yang bersedia membantu mewujudkan cita-cita mulia ini, dengan senang hati akan kami sambut,” tegas Ustadz Sirri.

Berdiri di atas lahan seluas 3 ribu meter persegi, di dalam lingkungan Ponpes Al Ma’Mur juga terdapat sekolah formal, mulai dari tingkat madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, hingga aliyah. Dan para santri yang mondok di ponpes ini, juga ikut serta dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah formal tersebut.


 
Powered by Blogger